Kegiatan Non-Akademis

Kegiatan Non-Akademis
Melalui berbagai kegiatan seni dan budaya, siswa-siswi SMAK Negeri Samosir dibentuk menjadi pribadi yang kreatif, di mana mereka harus mampu menemukan way out yang inovatif dan sefektif dalam menuntaskan persoalan hidup yang dihadapi. Seni dengan berbagai bentuk aktivitas indahnya pada akhirnya mengasah kreativitas mereka agar tak berhenti berkembang, namun selalu mencari yang lebih baik lagi. Hingga akhirnya segala potensi di atas akan menghantar mereka menjadi pribadi Katolik yang sedia berjuang untuk sesama. (sumber: Lusius Sinurat,2017: 175.)
Berbagai aktivitas non-akademis di SMAK  St. Thomas Rasul (kini menjadi SMAK Negeri Samosir) tampil lewat berbagai upaya pengembangan talenta/bakat dan keahlian siswa-siswinya di berbagai bidang, seperti seni dan budaya, kepemimpinan (leadership), liturgi, olahraga dan sebagainya.

Aktivitas non-akademis ini biar bagaimanapun turut membentuk karakter siswa-siswi SMAK menjadi pribadi yang tidak takut, tidak malu, dan tidak malas.

Aktivitas non-akademis juga dilakukan dalam bentuk berbagai pelatihan seni dan budaya dengan harapan agar siswa-siswi SMAK Negeri Samosir semakin mampu mengintegrasikan imannya dalam kehidupan nyata. 

Pada akhrinya, melalui berbagai kegaitan seni-budaya tadi, keberanian, rasa percaya diri dan tekad menjadi seorang Katolik yang dewasa akan menghantar mereka pada pribadi yang mampu mengintegrasikan kesadaran imannya akan Allah dalam segenap sisi kehidupannya. 

Di titik inilah optimalisasi dan keseimbangan siswa-siswi SMAK Negeri Samosir dilatih. Keseimbangan yang dimaksud ialah perkembangan di sisi kemampuan akademis, bakat, dan minatnya secara optimal dan seimbang. 

Begitu juga dengan disiplin, kerja keras, dan semangat untuk mau berusaha dengan gigih mau menggunakan semua sarana yang ada (kendati terbatas) dengan tepat dan bertanggung jawab, mengembangkan diri demi pelayanan kepada sesama dan memiliki ritme serta mekanisme hidup yang matang dan dewasa.

Seorang siswa/siswi SMAK oleh karenanya selalu dituntut menjadi pribadi yang mandiri: mampu memiliki pandangan/prinsip yang dihayati dari hati nuraninya, mampu mengambil keputusan sendiri, mampu bertindak sesuai dengan apa yang dipandang baik walau mungkin itu melawan arus, mampu melepaskan diri dari pengaruh yang kurang menguntungkan dalam mencapai kematangan dan kedewasaan pribadi. 

Sejalan dengan itu, ia juga haruslah kreatif. Maksudnya ia harus mampu menemukan cara / jalan keluar (way out) baru yang inovatif dan makin mampu secara efektif menyelesaikan segala masalah yang dihadapi; tidak berhenti berkembang dan selalu mencari yang lebih baik lagi.

Hingga akhirnya segala potensi di atas akan menghantar mereka menjadi pribadi Katolik yang sedia berjuang untuk sesama, yakni dengan motivasi yang tinggi untuk menggunakan segala bakat yang dimilikinya untuk melayani sesama, memupuk jiwa kepemimpinan untuk berjuang bagi sesama demi kebenaran, keadilan dan kebaikan.
OR